Kamis, 24 Januari 2019

Matahari untuk Leona

*Para Pemain :

                       Aditya si pembuat onar IPS

                        Leona, Simbanya Aditya

                      Silvi teman sebangkunya Leona



                              🌹🌹🌹



Di pagi yang cerah ini, suasana kelas XI IPS 1 tampak ceria. Tetapi, tidak untuk Leona. Gadis yang duduk paling dekat dengan pintu kelas itu, tampak murung.

Silvi yang baru saja menaruh tasnya, menatap heran Leona. "Lo kenapa?"

"Hmm..." ucap Leona tidak jelas. Ia semakin menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya.

Silvi mendengus sebal. Beginilah Leona, disaat merasa sedih dia tidak pernah mau mengutarakannya pada siapapun. Daripada lelah hati, Silvi pun menduduki bangkunya.

"Eh, Leona. Ada lagi nih!" Seru Silvi saat ia meraba kolong bangkunya. Disodorkannya susu cokelat dengan sebuah note ke arah Leona.

"Susu cokelat lagi?" Tanya Leona sambil menerima susu cokelat tersebut.

"Heran dah gue, kenapa secret admirer lo selalu naruh susu coklat di bangku gue?" Gerutu Silvi kesal.

Sudah seminggu Silvi mendapatkan susu cokelat di kolong bangkunya dan parahnya lagi, si pemberi menaruh susu cokelat di tempat yang salah. Maksudnya Silvi bukan penerima susu cokelat tersebut, Leona lah penerima sebenarnya.

Hai, Leona. Hari ini gue gak lihat senyum lo. Gue tau lo lagi sedih. Gue jadi ikutan sedih. Nih, gue kasi susu cokelat spesial dari biasanya biar sedih lo hilang. Jangan sedih lagi ya! Senyum dong biar cantik lo gak hilang :p. 

-Matahari.

Leona tersenyum kecil. Ia sedikit terhibur dengan pesan secret admirernya.

Brak!

Tidak ada yang terkejut dengan pintu yang terbuka dengan keras jika pelakunya adalah si pembuat onar IPS, Aditya.

"Selamat pagi IPS 1!"

Satu lagi, teriakan menggelegarnya sudah biasa menyapa telinga penghuni kelas IPS 1.

"Tolong tingkah lakunya dikontrol." Celetuk Farah ketua kelas IPS 1.

Bukannya merasa tersinggung atau marah, Aditya malah menampilkan cengiran konyolnya. "Abang lupa kalau ada Neng Farah disini. Neng Farah lagi pengen disapa sama Kang Asep ya?"

Farah melotot tak terima. "Mulut lo---"

"Asep! Neng Farah katanya lagi kangen nih!" Potong Aditya cepat sambil tertawa. Matanya pun mengelilingi seisi kelas.

Senyumnya melebar kala objek yang dicarinya sedari tadi ada di bangku paling ujung dekat pintu masuk kelasnya.

"Pagi Simba! Kok, wajahnya cemberut gitu?" Ucap Aditya sambil mencubit pipi Leona.

Leona mengaduh pelan lalu ditatapnya Aditya dengan sinis. "Please, jangan ganggu gue hari ini! Gue lagi gak mau diganggu."

Aditya sedikit tercengang. Ia merasa ada yang berbeda dengan Leona. Hari ini Leona tampak kacau.

"Lo kenapa?" Untuk pertamakalinya, Aditya memasang wajah serius dihadapan Leona. Tak peduli dengan perhatian orang-orang di kelas, Aditya pun menarik tangan Leona dan meninggalkan kelas.

"Adit! Lepasin gue! Lo mau ngajak gue kemana?"

Aditya tidak peduli dengan Leona yang terus memberontak ingin dilepas. Aditya ingin mengajak Leona ke roftoop sekolah.

"Lo diputusin Darka?" Tanya Aditya saat mereka berdua tiba di roftoop.

"Bukan urusan lo!" Balas Leona dengan ketus.

"Itu jadi urusan gue karena udah nyakitin sahabat gue!"

Leona menatap Aditya sejenak sebelum ia menundukkan kepalanya. "Darka gak nyakitin gue. Adit karena lo sahabat gue bukan berarti, urusan gue bisa jadi urusan lo juga! Lo tau apa tentang gue?!"

"Tunggu disini! Jangan kemana-kemana sampai gue datang!" Aditya membalikkan badannya dan bergegas turun tetapi, tangannya ditahan oleh Leona.

"Dit, gue gak apa-apa. Lo gak usah ikut campur lagi sama masalah gue. Gue bisa menangani masalah gue sendiri." Leona mencoba menahan Aditya. Leona tau jika Aditya ingin melabrak Darka. Leona tak ingin masalahnya bertambah rumit. Leona tak ingin Aditya ikut campur dengan masalahnya.

"Dibalik gak apa-apanya perempuan pasti ada apa-apanya. Gue gak akan nanya keadaan lo lagi karena itu percuma." Aditya melepas cengkraman tangan Leona dan berjalan meninggalkan Leona yang diam mematung.

Setelah kepergian Aditya, Leona menyesal karena telah melukai perasaan sahabatnya itu.

                          ...⚪⚫⚪...

Sudah seminggu Leona bertengkar dengan Aditya. Sejak kejadian di roftoop Aditya mendiamkannya di kelas. Sepertinya, Aditya masih merasa terluka dengan perkataan Leona. Dampak diamnya Aditya, kelas XI IPS 1 jadi sepi, tak ada candaan dan tawa yang menggelegar di kelas, tak ada perbuatan onar dan iseng sampai-sampai para guru mengadakan pesta di kantor guru sebagai bentuk syukuran hilangnya 'sosok' si pembuat onar.

Diamnya Aditya juga berdampak pada Leona. Anehnya, Leona merasa kosong. Seminggu yang lalu saat ia resmi mengakhiri hubungan spesialnya dengan Darka, dia tidak merasa kosong. Dia hanya sedih dan galau karena cinta monyet.

Leona ingin minta maaf kepada Aditya tetapi, ia gengsi. Kadang ia merasa tak ada yang salah atas perbuatannya pada Aditya saat itu. Kalau tidak minta maaf, Leona semakin merasa bersalah kepada Aditya. Huh, Leona seperti Raisa saja. Serba salah.

"Leona!"

Leona tersentak saat tubuhnya diguncang pelan. "I---iya?"

"Udah bel, lo gak pulang?" Tanya Silvi yang sudah siap dengan tas dipundaknya.

"Sudah bel ya? Lo duluan aja."

Drekkk...

Bangku Leona tiba-tiba saja berderak. Leona dan Silvi pun menoleh ke samping kiri mereka.

"A---adit?" Tanya Leona terkejut dengan kehadiran Aditya di sebelahnya.

"Kenapa gak angkat telepon?" Tanya Aditya menghiraukan ucapan Leona.

"Hah?"

"Nyokap lo telepon tapi gak diangkat-angkat. Nyokap lo bilang pulangnya naik gojek aja, nyokap lo gak bisa jemput lagi arisan katanya." Datar. Sangat datar. Untuk pertamakalinya, Leona mendengar ucapan Aditya sedatar triplek kayu.

"Oh, ma---" belum selesai Leona berterimakasih, Aditya bergegas meninggalkannya dan menuju ke luar kelas.

Silvi yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua, menatap prihatin Leona. "Lo masih berantem sama Aditya?"

Leona mengangguk lemah. Ia memasuki buku dan alat tulisnya ke dalam tas lalu menggendong tasnya di punggung. "Ayo."

"Kenapa lo gak minta maaf aja?"

"Gak gampang minta maaf dengan tulus." Jawab Leona jujur.

"Whatever, gue harap lo baikan lagi sama Aditya." Komentar Silvi.

Leona mencangkupkan tangannya, "Amin."

Saat mereka sampai di gerbang sekolah, keduanya menghentikan langkah mereka

"Gue mau pesan gojek dulu." Ucap Leona sambil meraba-raba sakunya. "Eh, kayaknya handphone gue ketinggalan di kelas."

"Mau gue anterin?" Tawar Silvi.

Leona menggeleng, "Gak usah, lo duluan aja pulangnya." Setelah itu, Leona berlari menuju kelasnya.

Leona menghela nafasnya lega karena pintu kelasnya belum dikunci oleh petugas sekolah. Itu berarti masih ada orang di kelas. Tetapi siapa yang ada di kelas? Mbak Kunti? Ah, ada-ada saja Leona.

Karena penasaran dan takut, Leona memutuskan mengintip lewat jendela kelas dan betapa terkejutnya Leona. Tidak, bukan Mbak Kunti yang ada di kelas melainkan Aditya. Yap, Aditya! Aditya sedang menaruh boneka beruang kecil di bangkunya. Tolong diperjelas lagi, di bangkunya!

Leona menganga tak percaya. Apa selama ini secret admirernya adalah Aditya? Kalau dipikir-pikir ininsial Matahari cocok dengan nama Aditya yang berarti matahari. Jadi selama dua minggu ini, Aditya yang memberinya susu cokelat.

"Ck, dasar ceroboh! Kenapa handphonenya ditinggal? Gimana caranya Simba pulang?" Gerutu Aditya yang dapat didengar Leona karena suasana sekolah sudah sepi.

Entah kenapa kekosongan yang dirasakan Leona menguap begitu saja. Ada perasaan hangat yang menyelubungi hatinya. Apalagi saat Aditya mengucapkan panggilannya 'Simba'.

"Apa perlu gue balikin handphonenya? Argh! Tapi gue lagi berantem sama dia!" Aditya menjambak rambutnya frustasi. "Hah, gue gak peduli. Kasian Simba bingung cari handphonenya."

Leona tersenyum. Ia jadi ingat saat Aditya membelanya saat ia dibuly, saat Aditya rela membawakan obat demam ke rumahnya pada malam hari, saat Aditya rela hujan-hujanan demi membawakan payung ke tempat lesnya, saat Aditya menghiburnya jika ia bertengkar dengan kakaknya, saat Aditya yang memarahinya jika melakukan kesalahan, dan masih banyak lagi pengorbanan Aditya untuk dirinya. Aditya rela menjadi matahari Leona. Layaknya matahari yang rela memancarkan sinarnya kepada bumi.

"Leona?"

Leona mengerjapkan matanya. Dihadapannya Aditya berdiri sambil membawa boneka beruang kecil dan handphonenya.

"Adit!" Tak perlu pikir panjang lagi, Leona berlari dan memeluk Aditya. Aditya terkejut dengan tindakan Leona saat ini. Ditambah lagi Leona yang menangis sesenggukkan didekapannya.

"Simba, jangan nangis." Sedikit ragu, Aditya mengelus rambut Leona dengan pelan. Tangis Leona pun mulai mereda.

"Gue pengen minta maaf sudah nyakitin perasaan lo pas itu." Ucap Leona setelah beberapa saat. "Gue pikir dengan bantuan lo, gue jadi bergantung terus dengan keberadaan lo." Ungkap Leona dengan jujur.

Aditya terkekeh pelan mendengar pengakuan Leona. "Hehehe... gak masalah. Emang itu tujuan gue."

"Ihhh!" Leona memukul pelan dada Aditya.

"Wkwkwk... bercanda, jangan baperan makanya! Gue juga minta maaf." Balas Aditya sambil menyentil dahi Leona.

"Adit, makasih ya udah mau jadi matahari buat gue." Ucap Leona dengan tulus.

Aditya tersenyum, "Seharusnya, gue yang bilang makasih karena dari jaman kita ingusan sampai sekarang, lo masih mau di samping gue. Gue bakalan terus jadi matahari lo."

"Ehergmm... aduh, neng sama mas kalau mau pacaran jangan di tempat sepi kayak gini! Gak baik!" Tiba-tiba saja penjaga sekolah menegur Leona dengan Aditya.

Keduanya tersadar jika posisi mereka sedari tadi berpelukan. Keduanya pun melepas pelukan satu sama lain dengan wajah memerah.

"Kita gak pacaran kok!" Elak Leona.

"Maaf, Pak. Tidak akan kami ulangi lagi kok." Berbeda dengan Aditya yang tampak menyetujui ucapan penjaga sekolah.

"Udah-udah, bapak gak peduli. Ini sudah sore lebih baik kalian pulang saja!" Usir penjaga sekolah dengan halus.

Keduanya pun mengangguk dan berpamitan dengan sopan.

Ting!

Silviaurelll Cantik :*
Handphone lo udah ketemu? Gue pulang duluan, soalnya lo lama banget -.-

"Dari Silvi." Ucap Aditya sambil menyodorkan ponsel Leona.

"Oh, makasih." Leona melirik sekilas ke arah boneka beruang cokelat digenggaman Aditya. "Ternyata lo secret admirer gue selama ini."

Aditya tersentak. Wajahnya memerah menahan malu. "Gue aja yang nganter lo pulang."

Leona tersenyum jahil. Ia menoel-noel lengan Aditya. "Ayo ngaku! Lo suka sama gue kan?!"

Wajah Aditya semakin memerah. Ia menambah kecepatan berjalannya meninggalkan Leona di belakang. "Ah, ngaco!"

Leona terkikik pelan. Ia berlari kecil mengejar Aditya di depannya. "Ih tunggu! Muka lo merah tuh!"

"Mata lo burem kali!"

"Gue seriusss!!!" Leona tersenyum. Ia sadar jika Aditya selalu ada untuknya. Leona beruntung bisa memiliki matahari yang menyinari hari-harinya.

Berlanjutlah, kisah persahabatan Leona dengan Aditya. Dan, Leona hanya perlu menunggu kelanjutan kisah mereka berdua. Leona tak tau hubungan apa yang akan terjalin dengan Aditya nanti tetapi, yang ia tau kini ia hanya perlu menikmati kisah masa putih abunya di bangku sekolah menengah atas.

                                                           TAMAT




Bonus :

                Aditya lagi beli keperluan bulanan

        Aditya yang lagi perhatian sama Simbanya

                      Aditya sama Leona lagi date
















Tada! Akhirnya aku berhasil nyelesaian sebuah cerita untuk pertama kalinya! Kyaaa, seneng banget rasanya \(>.<)/ semoga kalian suka^^ jangan lupa comment yo d(-.^)

8 komentar:

Matahari untuk Leona

*Para Pemain :                         Aditya si pembuat onar IPS                          Leona, Simbanya Aditya              ...